September 2014 - Indra Permana

Tuesday, September 30, 2014

Internet Lelet? Bikin Video Aja!

Tuesday, September 30, 2014 17
Internet Lelet? Bikin Video Aja!

"Ke mana aja gue baru posting lagi?"
"Ada, kok. Nggak ke mana-mana."
"Terus kenapa jarang posting di blog?"
"Jaringan provider internet langganan gue lagi centil, nggemesin."

Hmm.. kali aja ada yang nanyain ke mana gue selama dua minggu ini. Percakapan tadi adalah jawabannya. Sebelumnya gue juga udah pernah nulis atau ngomel lebih tepatnya di postingan gue sebelum-sebelum ini yang menjelaskan secara gamblang tentang alasan gue jarang boker ngeblog dan blogwalking. Yaitu karena jaringan. Shitmen.

.....

Gue termasuk orang yang amat sangat cepat merasa bosan akan suatu hal dan gue juga termasuk orang yang paling males untuk males-malesan, bawaanya pengin gerak terus. Pengin melakukan sesuatu yang bisa bikin badan gue bergoyang bergerak. Makanya kalo gue lagi gak ada kegiatan, bawaanya suka pengin gali sumur aja gitu di pinggir tol. Oleh sebab itu, selama gue gak ngeblog, gue tetep berkarya dengan apa yang gue bisa #hanjis #soasik. Gue mencoba mensiasatinya dengan membuat video-video random. Yoi, gue juga ikut meramaikan dunia per-video-an yang lagi rame banget akhir-akhir ini.

Jadi, gue mulai upload video-video random lagi ke akun youtube sama instagram gue. Walaupun sekarang masih beberapa, gue berharap bisa terus konsisten bikin videonya. Karena dari dulu juga gue udah seneng banget bikin video-video random, bahkan di channel youtube gue pun sudah dibikin playlist #ShortRandomVideo yang sengaja gue bikin untuk video-video random gue yang berdurasi pendek. Contoh videonya kayak gini:

Nah, yang di atas itu contoh video genre comedy, kalo yang di bawah ini yang agak serius nih karena menyangkut pernikahan. Monggo disimak baik-baik.



Gimana, guys? Dari kedua contoh video-video gue di atas, lebih suka yang mana? Yang pertama, kedua apa kelima? Kalo suka, bisa banget loh subscribe video youtube gue di sini --> "indrathrw on YouTube" atau follow instagram gue yang khusus video di sini --> "indrathrw on Instagram".

Nah guys, kurang lebih video-video gue itu semacam begitu. Mohon maap kalo di videonya masih ada yang kurang rapi atau kurang garam. Gue masih belajar banget ngedit-ngedit video. Maklumin, ya. Tapi gue akan terus berusaha lebih baik untuk video-video gue berikutnya. 

Kayaknya segitu aja dulu postingan gue kali ini. Ditunggu sekali komentarnya di youtube sama instagram gue. Komen di sini juga boleh banget. See ya next, guys! :D

Thursday, September 18, 2014

Perjalanan Mengejar Gelar Eps. 2

Thursday, September 18, 2014 15
Perjalanan Mengejar Gelar Eps. 2
Buat yang belum tau, cerita ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang berjudul "Perjalanan Mengejar Gelar" sila dibaca buat yang belum baca dan yang mau baca, supaya nyambung kayak si Jaka. Jaka Nyambung.

.....

Adzan ashar berkumandang. Seketika gue terbangun dan melirik jam yang sudah menunjukan waktu sore hari. Tak lama kemudian, temen gue pun bangun dan kemudian bergegas untuk mandi setelah gue menyuruhnya.

Gue masih ngesot-ngesot di kasur. Alasannya sederhana, gue masih pengin pelukan sama kasur hotel beserta kantuk yang masih menyelimuti. Kepala mendadak sedikit pusing. Mungkin karena tidur yang nggak begitu lama.

Ponsel gue berbunyi dengan nada dering yang menandakan itu adalah SMS. Gue buka, dan ternyata dari Fitri Teleb, temen kampus gue. Dia SMS gue yang isinya kurang lebih seperti ini, "Ke Horison jam berapa?" dengan cepat gue bales, "Jam 4 kumpul langsung di Horison." setelah SMS dari gue terkirim, tak ada lagi balasan dari Fitri.

Temen satu kamar gue Andi, baru saja beres menunaikan pembersihan badannya yang (lebar) penuh dengan keringat dan daki bekas keringat selama perjalanan yang kemudian bergegas memakai baju yang sudah ditentukan oleh pihak kampus. Oke, sekarang giliran gue yang harus membuang gerah dan daki di tubuh gue.

Dengan tenaga sisa dari tidur siang yang nggak lama tadi, gue menuju ke Toilet. Ada 2 pancuran yang orang-orang bilang itu shower. Bentuknya sudah mulai usang. Shower yang sebelah kiri, yang harusnya untuk mengeluarkan air hangat sudah tak lagi berfungsi. Kedua shower itu airnya dingin. Dan basah.

As always, gue melakukan ritual yang biasa gue lakukan di rumah yaitu nongkrong terlebih dahulu untuk kemaslahatan kandungan perut gue. Dunia harus tahu. 

Selesai mandi, gue langsung memakai baju yang sudah gue persiapkan sebelum mandi. Celana denim, kaos hitam dan almamater (include kolor, pastinya). 

Sementara temen gue sudah pada siap, gue masih bercermin untuk membereskan rambut yang nggak gue keramasin waktu mandi tadi, Andi dan Sopyan menghampiri kamar gue dan itu menandakan bahwa gue harus lebih gerak cepat untuk bergegas pergi ke Horison. Karena waktu sudah hampir menunjukan pukul empat.

Setelah shalat ashar, kita lari-lari kecil menuju Hotel Horison yang berada tepat di depan hotel yang kita tempati.

"Loh, kok sepi?" Tanya gue penasaran.
"Pada belum datang kali, ya?" Temen gue nanya balik.
"Ya sudah yuk buruan masuk!" Timbal gue dengan langkah yang semakin cepat.

Kaki kanan gue menginjakan pintu masuk Hall Hotel Horison. Nggak ada siapa-siapa di dalam sana kecuali seorang cowok dengan bada gempal yang menunjukan arah sebelah kanan yang ternyata banyak orang-orang yang sudah berkumpul dan duduk di atas kursi yang sudah disediakan. Temen-temen sekampus gue yang lainnya pun sudah berkumpul dan sudah menduduki kursi yang sudah dan sedang ditentukan oleh pihak kampus.

Gue mulai duduk di antara ratusan calon wisudawan/wisudawati. Baru saja gue menempelkan bokong ke kursi, tetiba ada yang menyapa di sebelah kanan gue. Ternyata itu temen sekelas gue, Nanan sama Rina. Mereka masih berada di kursi yang belum ditentukan, begitu pun gue yang baru datang. Ada sedikit percakapan antara gue sama Nanan tentang di mana anak-anak kampus menginap. Tak lama gue dipanggil untuk segera menduduki kursi yang sudah diatur untuk tempat duduk gue besok.

Setelah semuanya mendapatkan kursi yang sudah ditentukan, hal-hal yang sangat membosankan pun dimulai. Geladiresik dimulai sekitar pukul empat lebih dan berakhir sekitar pukul enam sepuluh menit.

Semuanya membubarkan diri, berhamburan ke luar ruangan dan menuju ke tempat tujuannya masing-masing. Temen kampus gue masuk ke bus yang mengantarkan ke mana-mana selama di Bandung. Sedangkan gue, Andi dan Sopyan nggak ikut naik bus itu, nggak ikut naik haji juga, karena tempat penginapan kita ada di seberang sana. Lima menis setelah ngobrol-ngobrol bersama temen yang lain, kita bertiga bergegas ke penginapan.

Langit mulai menghitam setelah sempat memerah padam sebentar menyambut matahari yang kian temaram. Udara sudah mulai menurun suhunya, dan kendaraan makin ramai berlalu lalang karena sudah memasuki waktu jam kerja untuk pulang. Pemandangan di depan jalan dan gedung-gedung di sekitar menjadi semakin menarik karena lampu-lampu yang bermacam bentuk mulai menampakkan sinarnya. Gue merasakan waktu senja di kota tetangga dengan senangnya.

***

Pagi tiba, Sang Surya masih belum menampakan sinarnya. Gue buru-buru mandi besar biar bisa santai dulu sebelum berangkat. Setelah shalat shubuh, gue balik lagi ke kamar nyiapin toga yang bakalan gue pake. Ketika gue naik tangga menuju ke kamar, terlihat seorang mas-mas yang membawa nampan, di atasnya terdapat empat potong roti panggang, dua butir telur, dua cangkir teh manis hangat, tiga perak, dua emas dan lima perunggu. Bentuk aslinya kayak gini nih:

Asik, ternyata ada free breakfast juga euy, dalam hati gue. Tapi ternyata, si mas-masnya malah nganterin nampan itu ke kamar lain. Kampret, gue kegeeran. Sakitnya tuh di sini (nunjuk dengkul).

Entah mengapa tetiba gue buru-buru loncat indah ke kamar dan memastikan apakah kamar gue dapet free breakfast apa nggak. Eh, ternyata nggak. Sakitnya tuh di sini (nunjuk dengkul lagi). Dengan rasa penasaran, gue pergi ke kamar sebelah dan eng-ing-eng, mereka sedang asik sarapan dengan menu yang sudah gue sangka-sangka daritadi. Oke, berarti tinggal menunggu punya gue datang aja nih.

Tik tok tik tok tik tok. Jarum jam di kamar berdetak selama lima menit.

Free Breakfast masih belum mampir ke meja kamar gue.

Tik tok tik tok tik tok. Lima menit kemudian pun masih belum juga singgah di meja kamar.

Dengan perasaan yang merasa dirugikan dan dengan oleh keinginan luhur, maka gue memberanikan diri untuk menanyakan jatah Free Breakfast kamar gue itu.

"Mas.. Tolong, mas.. Saya lapar.. Belum makan sedari saya masih berbentuk embrio.." Pinta gue, memelas.
"Yaampun, kasian. Yaudah yuk Mas traktir makan di Restoran Padang." Jawab Mas-mas, penuh iba.

Gak gitu juga, deng. Intinya sih gue nanyain ke Mas-mas hotelnya kenapa kamar 237 belum ada yang nganterin free breakfast, yang kemudian dijawab langsung masnya dengan membawa free breakfast kamar gue. Akhirnya gue bisa perbaikan gizi.

Setelah semuanya beres, semua sudah siap, kita semua berangkat bersama menuju Hotel Horison.

Bersambung...

Saturday, September 6, 2014

Perjalanan Mengejar Gelar

Saturday, September 06, 2014 15
Perjalanan Mengejar Gelar
Pada kalender akademik kampus gue, tanggal 23 Agustus 2014 adalah hari dimana gue make toga. Yoi, 23 Agustus 2014 adalah hari wisuda angkatan gue di kampus. Yass! Akhirnya, nama gue ada embel-embelnya juga. Nama gue jadi gak polos-polos amat kayak serabi.

Tulisan kali ini gue gak bakal nyeritain yang serius-serius. Karena serius udah bubar. Tulisan kali ini gue mau nyeritain perjalanan gue dari mulai berangkat tanggal 22 Agustus sampai ke acara utama pada tanggal 23 Agustus dan setelah-setelahnya. Oke, yuk siapin cemilan sama minumannya, gue mau cerita ke-random-an gue. Hehe.

***

Jauh hari sebelum berangkat,  gue beserta 2 teman gue, sebut saja Andi dan Sopyan (bukan nama samaran, tapi nama pasaran) berencana untuk tidak ikut bersama rombongan di kampus untuk pergi ke tempat dimana nanti gue akan di wisuda, gue memutuskan untuk membelah diri aja dari temen-temen yang lain, yaitu dengan berangkat langsung dengan orang tua/pendamping wisudanya. Karena yang ikut rombongan kampus itu tidak beserta dengan orang tua/pendampingnya.

Alasannya ya biar nanti orang tua kita gak perlu repot-repot berangkat subuh dan nyari-nyari alamat menuju ke tempat wisuda.

Keputusan pun sudah bulat, kami siap melanglang buana menuju Bandung untuk mengarungi perjalanan mengejar gelar. Gue didampingi Mamah, Sopyan didampingi bapaknya dan Si Andi didampingi sang pacar. Ya, si Andi ini gak berprikejombloan dan tidak mempraktekan sikap tenggang rasa terhadap temannya yang masih jom.. eh, single ini. 

***

Tanggal 22 Agustus jatuh pada hari jumat. Gue berangkat pagi sekitar jam 6.15 dari rumah menuju ke tempat pangkalan (bencong) bis yang sering gue tunggangi kalo pergi ke luar kota. Menuju ke pangkalan bis itu gue tempuh dengan menggunakan angkot 08. Gue naik di daerah deket rumah gue yang memang jadi jalur trayek angkot 08. Gak lama kemudian angkot datang, gue dan nyokap buru-buru naik. Pas naik dan liat muka supirnya, kesan pertama yang muncul di pikiran gue adalah itu muka amburegul banget, pak. Kelakuannya apalagi. Semacam tengil-tengil emesiyu gitu. Pokoknya bahrelway-bahrelway.

Angkot sudah terisi penuh dan mulai melaju kencang dengan manuver yang gesit selap-selip tanpa sulap.

Di pertengahan jalan, angkot yang gue sama nyokap tunggangi menyisakan kita berdua, karena anak-anak sekolahan yang sedari gue naik sudah memenuhi angkot mulai turun di depan sekolah mereka masing-masing yang berada di satu wilayah bernama Alun-alun. Oke, dugaan gue ini angkot pasti bakal "ngetem" dulu. Dan yak, praduga gue bener. Hadeuh, mana temen udah pada ngumpul di tempat pangkalan bis. Sempet pengin bilang "Mang, cepetin dong. Saya ketinggalan bis." Tapi si mamangnya malah teriak khas kondektur Metro Mini dengan teriakan gak jelas sambil marah-marah. Anjis, masih pagi udah absurd aja, dalem hati gue bergumam.

Sesampainya di depan pangkalan bis, gue ngeliat temen yang udah nungguin dari tadi. Karena merasa kesiangan, gue langsung nyari bis jurusan Tasik - Jalur Gaza. Errr… Gak gitu juga atuh, Ndra. Oke, gue langsung nyari bis Tasik - Bandung dan langsung naik ke dalam bis biar bisa milih tempat duduk yang nyaman. Baru aja duduk santai, langsung keingetan temen gue satu lagi yang masih belum naik bis.

Tik tok tik tok. Detik waktu berjalan.

10 Menit kemudian.

Temen gue masih belum nongol anunya (baca: batang hidungnya). Lama nunggu sampai bis mulai jalan dan temen gue masih belum keliatan batang hidungnya. Gue telpon, dan ternyata masih di rumahnya. Dengan mental mahasiswa, gue nyoba orasi di telpon untuk terus memprovokasi temen gue buat buruan nyamperin bis karena bis udah mulai jalan.

Tik tok tik tok.

10 menit kemudian.

Yaaas! Dia datang juga. Usut punya usut, telatnya dia ke pangkalan bis adalah karena ban motornya bocor. Ini semacam skenario di FTV, absurd tapi nyata. Tapi tak apa, sing penting dia sudah naik bis dan siap mengarungi perjalanan Tasikmalaya - Bandung.

Sesampainya di Terminal Cicaheum Bandung, kita semua turun dan langsung memburu angkot 01 Kelapa - Ciroyom yang bakalan nganterin kita ke tempat tujuan, Hotel Horison. Seperti biasa, sehabis turun dari bis, akan banyak makelar atau marketing angkot yang nawarin naik angkotnya.

"Ke mana, dek? BSM?" Si Mamang Angkot nanya.
"Anjrit si Mamang ini sotoy koya bangetlah. Emang muka kita ini muka anak mall?" Dalem hati gue.
"Mau ke Hotel Horison, Mang." Lanjut gue.
"Oh, tungguin-tungguin di sini. Naik 01." Timbalnya rusuh.
"Iya, Mang hatur nuhun. Udah tau kok." Jawab gue sambil melengos menuju angkot yang udah datang.

Gue dan yang lainnya buru-buru naik angkot biar bisa jumatan.

Sesampainya di daerah Hotel Horison, kita semua turun dan bayar ongkos biar gak dikira gembel. Langkah demi langkah mengayun bersamaan dengan kebingungan gue nyari tempat hotel yang sudah gue lakukan research sebelumnya. Waktu itu gue dapet dua nama hotel yang harganya miring kek menara pisa dan deket dengan Hotel Horison tentunya. Gue memilih Hotel Rinjani sama Hotel Marala. Kedua hotel itu kelas melati, ya lumayanlah yang penting bisa tidur pulas dan bisa deket sama tempat wisuda.

Tepat di depan Hotel Horison ada sebuah hotel yang gak terlalu besar bernama Hotel Rinjani. Yes! Itu dia hotel yang gue cari-cari. Gue seperti menemukan harta karun dan oase di padang pasir. Tanpa pikir panjang, gue langsung nyebrang menuju hotel itu.

Sesampainya di depan pintu lobby hotel, gue berhenti sejenak dan ngasih tau ke rombongan tentang kisaran harga room termurah di hotel ini, dan mereka setuju. Oke, gue beserta rombongan lanjut masuk ke lobby hotel dan menanyakan room hotel yang paling standard di hotel tersebut. Guess what happen? Ternyata room rate paling standard di hotel itu jauh lebih murah dari yang sudah gue perhitungkan. Gak nunggu lama-lama, gue langsung order 3 kamar.

Tak lama setelah order room, gue beserta rombongan langsung dianterin ke room yang udah di-order tadi.

Pintu kamarnya dibuka. Dengan spontan, dalam hati gue ngomong "Wah, lumayan juga euy ini roomnya. Dengan harga yang segitu, fasilitas yang lumayan dan ternyata we're get free breakfast. I think i've just been a lucky man. Yeah!"

Kurang lebih bentuk kamarnya kayak gini. Please skip manusia yang motretnya.
Setelah si Mamangnya pergi, gue langsung rebahan di kasur tanpa melepas sepatu terlebih dahulu. Temen gue pun.

"Alhamdulillah bisa dapet penginapan yang deket dengan tujuan dan dengan harga yang lumayan murah." Ucap gue sambil tiduran.

"Iya, euy.." Jawab temen gue lemes.

Barang bawaan sudah dibereskan, semuanya sudah rehat sejenak, waktunya jumatan. Oh iya, keberuntungan masih memeluk gue sama temen-temen, mesjid yang sering dipake untuk jumatan di daerah hotel ini ternyata jaraknya deket banget. Sekitar 300 meter dari hotel. Jadi kita gak perlu naik angkot terus naik bis, naik kapal dan naik rakit dulu kalo mau jumatan.

Tak lama setelah shalat jumat, gue beserta rombongan bermaksud untuk cari makan siang. Kita semua jalan-jalan ke luar hotel sambil meraba-raba kali aja ada tukang dagang nasi sama lauknya. Tak jauh dari pintu hotel, ada 2 gerobak yang lagi asik nongkrong sambil menjajakan dagangannya. Di sana ada gerobak yang berjualan nasi padang dan yang berjualan nasi khas sunda. Gue, nyokap sama temen gue Sopyan, memilih untuk membeli makan di gerobak nasi khas sunda. Sedangkan si Andi beserta pacarnya memilih jalan-jalan. Mereka gak ikut makan karena mereka sudah makan sedari pulang jumatan.

Dikarenakan nanti sore akan ada kegiatan gladi resik untuk wisuda besok, kita memutuskan untuk istirahat sejenak hingga sore hari.

Bersambung...

Monday, September 1, 2014

Cara Mengatasi Koneksi Internet Lelet

Monday, September 01, 2014 35
Cara Mengatasi Koneksi Internet Lelet
Bagi seorang blogger dan para penggiat kegiatan di internet lainnya, koneksi internet adalah kebutuhan primer. Bagi manusia kebanyakan, sandang pangan papan adalah kebutuhan primernya. Sedangkan bagi jomblo kebanyakan, kebutuhan primernya adalah gadget, kuota dan sabun. 

Dua minggu terakhir gue gak posting tulisan baru di blog ini. Alasannya standar banget kayak muka gue; jaringannya lagi bobrok. Ya, sekiranya begitulah alasan blogger jadul yang tinggal di kota gundal-gandul amburegul yang koneksi internetnya cuma segitu-gitu aja. Selain jaringan, alasan yang kedua ini adalah alasan yang cukup manusiawi. Seminggu kemarin gue sibuk nyiapin ini itu buat wisuda, dan alhamdulillah wisudanya sudah dan berjalan dengan lancar. 

Woiya, ada sedikit cerita dari perjalanan gue menuju tempat wisuda. Nanti bakalan gue post, mudah-mudahan ada yang baca. Postingannya udah hampir rampung, sekitar 86,9%. Postingan yang satu itu memakan waktu yang banyak, jaringan yang acakadut adalah faktor utamanya. 

Nah, dengan adanya postingan ini sebenarnya adalah dalam rangka mengeluh atas koneksi internet yang makin ke sini makin sulit dimengerti, kurang lebih kayak pacar kamu yang sekarang. Kadang-kadang kecepatannya stabil, kadang-kadang ababil dan hal itu menyebabkan hasrat gue buat nulis makin luntur sesaat. Oke, gue memang lemah kalau masalahnya bersangkutan sama jaringan.

Karena masalah koneksi internet adalah masalah yang harus segera diselesaikan, maka gue harus bertindak secara tegas untuk menentukan kembali provider mana yang seharusnya digunakan. Hmm.. Gue kira cuma cari pacar sama cari calon istri/suami aja yang harus selektif, pilih provider juga harus.

Dengan banyak pertimbangan, gue memutuskan untuk mencari selingkuhannya. Kenapa selingkuhan? Karena selain gue belum bisa lepas sepenuhnya dari provider yang sudah gue pake sedari tahun 2009, provider yang gue pake sekarang ini juga cuma di beberapa waktu tertentu aja down-nya. Mungkin karena sudah banyak orang yang pake. Ini aja ngetik postingannya tengah malem, biar lancar bokernya koneksinya. Mudah-mudahan selingkuhan provider yang ini bisa diandalkan ketika sedang dibutuhkan.


Seiring dengan seringnya gue menghadapi koneksi internet yang lelet, gue jadi semacam punya ilmu baru yang mau gue share khusus kepada kalian yang setia mantengin blog gue ini. #hazeg

Gue mau ngasih tau Cara Mengatasi Koneksi Internet Lelet:
  1. Sabar
  2. Sabar
  3. Sabar
  4. Upgrade bandwith
  5. Jika masih lelet, ganti provider!
Jika cara di atas tidak menunjukan hasil, lakukan terus hingga belut berambut. Sekian.

Btw, gue sangat berharap banyak sama jajaran pemerintahan sekarang yang mengurusi bidang IT. Mudah-mudahan di pemerintahan yang sekarang bisa dapet MENKOMINFO yang bener-bener kompeten di bidangnya agar bisa memberdayakan blogger-blogger fakir koneksi macam gue ini.

Hehehe, ini postingan spontan sekali. Maap jika ada yang tidak berkenan. Nah, kalian pernah gak nih punya masalah yang sama kayak gue ini? Cerita di komen, yuk! :D