February 2015 - Indra Permana

Wednesday, February 25, 2015

Beberapa Hal Yang Menghambat Konsistensi Berkarya

Wednesday, February 25, 2015 12
Beberapa Hal Yang Menghambat Konsistensi Berkarya
Banyak sekali orang yang mengeluh karena nggak bisa konsisten akan suatu hal. Contoh deketnya gue. Gue ini termasuk orang yang bisa dibilang nggak bisa fokus terhadap satu hal. Gue banyak mencoba banyak hal-hal baru, tapi nggak bisa bertahan lama. Bukan karena gue ini orangnya nggak setia, jelas bukan. Tapi karena ada beberapa hal yang menghambat. Apakah ada yang merasakan hal yang sama? Mari kita goyang dumang. 

Skip.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadikan seseorang tidak konsisten. Salah satu diantaranya adalah ketergantungan. Bisa bergantung terhadap sesuatu atau terhadap seseorang. Tapi semuanya bisa diatasi dengan keinginan dan niat yang kuat. Oke, gue coba beri contoh ketergantungan yang dapat menjadikan seseorang jadi nggak konsisten berkarya.

1. Mood
Musuh paling utama dalam berkarya itu nggak lain dan nggak bukan adalah bergantung terhadap mood. Susah emang kalo mau ngelakuin sesuatu itu harus barengan sama mood. Ceritanya mau nulis postingan baru, buka laptop aja nggak mood. Ceritanya mau bikin video, manjangin tripod aja nggak mood. Ceritanya mau boker, ngeden aja nggak mood. Huh.


Berhubung mood nggak ada yang jual di OL Shop Instagram, maka buatlah mood lu sendiri. Karena katanya mood itu dibuat, bukan dicari. Cara membuat mood datang itu beda-beda tiap orangnya. Ada yang harus ngerjainnya malem-malem, ada yang harus minum kopi dulu, maen game dulu, twitteran dulu, boker dulu atau bahkan ada yang harus twitteran sambil boker dulu. Beda-beda. Tapi semua itu bisa kalah dengan keinginan dan niat yang kuat.

2. Penunjang
Parman adalah seorang pria yang senang membuat video, tapi doi cuma punya alat-alat seadanya. Suatu ketika doi punya ide yang luar biasa untuk video barunya, tapi doi kepentok alat-alat yang masih alakadarnya. Padahal kalo semua alatnya tersedia, Parman akan menghasilkan video yang yahud. Dikarenakan alat-alat yang dibutuhkannya nggak ada, maka Parman mengurungkan niatnya untuk membuat video tersebut.

Adakah diantara kalian yang pernah mengalami hal demikian? Gue pernah dan sering banget. Dengan kasus seperti ini, terkadang gue hanya menghasilkan teori tanpa praktek. Hanya ide tanpa hasil karya. Di situ kadang saya merasa sedih. 

Nah dari sanalah dituntut untuk lebih kreatif, mengeksekusi ide menggunakan alat-alat seadanya tapi bisa menghasilkan karya yang nggak sekedarnya. Jangan kayak gue yang nggak pernah konsisten berkarya karena kepentok sama penunjangnya. Hehe. Tapi semua itu bisa kalah dengan keinginan dan niat yang kuat.

3. Partner
Salah satu sifat dasar manusia yaitu nggak bisa hidup sendiri, mereka butuh orang lain. Bergitupun dalam hal konsistensi berkarya. Ada beberapa project yang nggak bisa dilakukan sendirian, oleh karena itu, partner sangatlah dibutuhkan. Dengan adanya partner, kita jadi bisa lebih berkembang karena ada tempat untuk sharing dan eksekusi ide. Kalo partner nggak ada, ya bisa menghambat konsistensi dalam berkarya. Tapi semua itu bisa kalah dengan keinginan dan niat yang kuat.

Tiga poin di atas adalah alasan-alasan gue sendiri kenapa gue masih belum bisa konsisten untuk terus berkarya. Dan mudah-mudahan postingan kali ini bisa memberikan pencerahan untuk gue pribadi atau untuk para pembaca yang sering terhambat juga untuk konsisten dalam berkarya. Salam \o/ 

Sunday, February 8, 2015

Pengalaman Bekerja Jadi Tukang Fotokopi

Sunday, February 08, 2015 20
Pengalaman Bekerja Jadi Tukang Fotokopi
Sekitar tiga tahun ini, gue sudah pernah bekerja di tiga tempat. Dari sekian tempat kerja yang pernah gue lamar, hanya 3 tempat yang menerima gue sebagai pegawai/karyawannya. Di mana saja gue bekerja dan pekerjaan apa saja yang gue dapet? Semuanya akan gue bahas di sini.

Postingan ini bisa juga dijadikan sebagai bahan (bangunan) renungan atau bahan persiapan bagi kalian wahai para pelajar dan mahasiswa yang baru lulus atau kalian yang belum pernah bekerja. Oh iya, gue bakal menceritakan pengalaman gue selama bekerja satu-satu, dua lagi gue pisahin. Biar kayak maenan import yang batre sama asesorisnya dijual terpisah.

***

Tahun 2012 adalah tahun dimana gue mulai bekerja. Dan pekerjaan pertama yang gue dapetin adalah jadi tukang fotokopi-an. Iya, seorang tukang yang suka moto dan minum kopi. Bukan ding.

diperankan oleh model
Pekerjaan ini gue dapetin dari rekomendasi salah satu temen sekelas gue di kampus. Doi bekerja di POLRES Tasikmalaya Kota yang letaknya tepat berhadapan dengan tempat fotokopi yang akan menjadi tempat kerja gue. Doi juga kenal baik sama pemilik fotokopian itu.

Gue bekerja di fotokopi-an ini ketika gue semester tiga. Berhubung gue ngambil kelas karyawan yang jadwal kuliahnya sore sampe malem, jadi gue memutuskan untuk mencari pekerjaan. Waktu itu gue ngotot banget pengin kerja biar bisa dapet uang jajan tambahan dan bisa beli sesuatu yang gue pengenin. Kebetulan juga waktu itu adalah bulan puasa, lumayan kan sambil nunggu adzan maghrib, bisa kerja dan kuliah juga. Sibuk dengan hal-hal postif. #hazeg

Pas gue udah sah dan diterima menjadi Tukang Fotokopi, gue seneng. Karena gue akan sedikit mengurangi setidaknya sedikit beban orang tua gue. #hazeglagi

Menjadi Tukang Fotokopian itu not so like what i think. Gue kira cuma gitu-gitu aja, mengkopi pake mesin doang. Padahal nggak segampang itu. Pengalaman gue selama kerja di fotokopian itu greget serem. Gregetnya karena gue harus bekerja ekstra cepet karena pembeli/klien-nya banyak banget. Gue juga harus ekstra konsentrasi karena gue takut salah mengeksekusinya. Kan gak lucu kalo ada yang minta laminating SIM, tapi malah dikasih fotokopian muka si klien.

Seremnya, selain melayani masyarakat yang hendak berkepentingan ke POLRES, Polisi dan pegawainya pun tak luput gue layani (dalam arti sebenarnya, ya. Iya). Bedanya, mereka ini harus lebih cepet, rapi dan pastinya kudu bener. Belum lagi dari cara beberapa Polisi di sana yang memberi intruksi gue dengan nada tenor yang berat dan tegas.

Gue jadi inget, dulu pernah melayani pegawai di sana yang meminta untuk mem-fotokopi berkas-berkas penting. Oke, setelah dijelaskan penginnya gimana, gue langsung mem-fotokopi. Setelah beres, lanjut ke penyusunan. Nah di sini gue mengalami titik puncak kekesalan-yang-ditahan-hingga-nyutnyutan-di-ubun-ubun. Kenapa?

Karena gue sudah yakin kalo pekerjaan gue itu betul. Tapi tetep aja di mata si Abang itu gue tetep salah. Iya, gue emang selalu salah dan nggak pernah bener. Da aku mah apa atuh, napas aja salah. Kentut juga fals.

Tak lama kemudian, si pemilik yang bernama Zayn Malik (Nama yang disamarkan pastinya) datang menghampiri gue yang udah keluar asap dari ubun-ubun dan langsung membantu pekerjaan gue yang udah acakadut karena salah mulu. Setelah beres, si pak Zayn Malik (masih nama samaran) cerita ke gue, kalo si Abang yang satu itu memang keras kepala. Merasa paling bener kayak mantanmu. Padahal yang salah memang si Abangnya. Gue cuma bisa ngurut dada sampe longsor.

Ya Tuhan, nyari duit itu susah juga ternyata.

Dari sana gue mulai menghargai sekali jerih payah  dan keringat orang yang lagi cari duit. Gue dapet banyak pelajaran dari pekerjaan pertama gue sebagai tukang fotokopi. Gue jadi lebih menghargai usaha dan profesi seseorang.

Nah, kalo kalian udah pernah kerja apa belum? Kalo udah pernah, pekerjaan pertamanya apa dan gimana kesannya? Share di komen box, yuk! Yang suka sama postingan ini, bisa share, follow dan subscribe blog gue. Thanks, cuy! :D