Agustus 2017 - Indra Permana

Minggu, 13 Agustus 2017

Begadang Jangan Begadang, Kalau Nggak Mau Jerawatan

Minggu, Agustus 13, 2017 0
Begadang Jangan Begadang, Kalau Nggak Mau Jerawatan
Udah hampir seminggu ini gue tidur di atas jam 2. I mean not literally tidur di atas jam yang menunjukan jam dua pagi, kemudian gue kasih sprey, selimut, bantal, guling terus gue tidur di atas itu semua. Bukan. Tapi gue tidur ke-hampir-pagian.

Kalo malam minggu mah gue nggak sih oke-oke aja karena bisa bangun seenaknya. Kerja libur, acara dan janji pagi-pagi nggak ada, upacara dan apel pagi apalagi. Lah kalo besoknya harus kerja seperti biasa, bisa-bisa gue ngeluarin jurus mabuk kayak di film-film kungfu karena sempoyongan kurang tidur. Apalagi di jam kerja mah gue nggak bisa bayar dengan tidur siang.

Belum lagi kalo kepala merasakan sesuatu kayak lirik lagu boyband SM*SH yang cenat-cenut itu, kemudian mata seolah-olah lagi nge-gym ngangkat beban berat, terutama abis kenyang makan siang.

Oleh karena itu, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa semakin kenyang perutmu, maka akan semakin berat beban matamu. Efek sampingnya, badan jadi males gerak dan lemes bray. Kerja jadi nggak bisa fokus penuh.

Baca juga: Ritual Yang Dilakukan Ketika Badan Nggak Fit

Kalian semua pasti tau lah gimana madharatnya kalo punya hutang sama tidur.. Selain harus dibayar lunas, harus diperbaiki juga setelahnya.

Kalo lagi kurang tidur, badan akan merasakan penurunan semangat dan gairah, tapi muka malah jadi bersemangat menimbulkan benjolan kemerahan bernama jerawat. Ya gimana cuy, konskuensi yang bisa diambil sama tubuh gue kalo kurang tidur ya dengan timbulnya jerawat ke permukaan wajah.

Masalahnya, jerawat bukan hanya timbul doang, tapi doi eh maksudnya mereka (karena banyak), menclok dan memposisikan diri mereka di mana aja, semaunya meraka. Bebas.

Kebetulan, menyinggung soal jerawat, si musuh semua manusia, berikut akan gue eta terangkanlah tiga posisi jerawat yang menurunkan kadar kepercayaan dan kenyamanan diri menurut penilaian gue pribadi. Here we go;

1. Di Pipi

Ini biasanya tempat favorit jerawat untuk tumbuh, berkembang, nikah, kawin dan membelah diri. Sedikit mengganggu penampilan dan kenyamanan tapi nggak terlalu signifikan karena jerawat di pipi memang sudah terlalu mainstream, jadi hanya akan menurunkan kadar percaya diri sekitar 1 sampai 30% saja. Masih aman dan nyaman untuk hangout.

2. Di kening

Ini gue juga nggak tau maksudnya gimana, gue bukan orang india dan nggak ada keturunan india juga, tapi yang pasti kalo sujud itu sakit asli, ganjel juga, berasa ada pembatas antar kening dan tempat sujud. Hindari cium kening dulu kalo sedang ada jerawat tumbuh di kening, apalagi kalo dicium sama bibir sendiri. Susah cuy, nggak nyampe.

Untuk jerawat di area ini, biasanya akan membuat wajah menjadi sedikit berubah dari pola dasarnya, nggak terlalu signifikan, tapi berasa bedanya. Kadar percaya diri dan kenyamanan menurun sekitar 30 sampai 70%. Solusinya masih bisa disamarkan dengan menurunkan poni, pake topi atau pake topeng aja. Hahaha.

3. Di Area Lubang Hidung

Kecil memang, tapi berasa berjerawat sehidung-hidung. Gue nggak ngerti juga kenapa bisa kayak gitu. Di towel dikit aja, nyut-nyutannya bisa nyampe ke ubun-ubun. Wuh, padahal jerawat ya, bukan temennya cumi-cumi.

Area ini yang menurut gue paling ganggu banget cuy. Ngupil jadi nggak akan se-chill disaat nggak ada jerawat. Ngomong di depan umum jadi harus sering pencet-pencet hidung buat nutupin jerawatnya. Kadar percaya diri dan kenyamanan akan turun drastis, yaitu sekitar 70 sampai 100%. Untuk cowok yang berkumis, solusinya ya kumis. Tapi kalo untuk cewek, kalian nggak perlu berkumis ya buat nutupin jerawat di area ini.

-

Maap gue nggak pake ilustrasi foto jerawatnya, karena menghindari kenyamanan kalian untuk membaca postingan berbobot ini sampe beres. Btw, yang merasa setuju dengan penilaian gue, teriak aja di kolom komentar.

Nah kalo ngomongin soal begadang, secara otomatis kita akan inget apa kata Bang Haji Rhoma Irama yang dengan perhatiannya memberikan wejangan perihal pola tidur orang-orang. Wejangannya sangat nempel banget di pikiran gue dari dulu,

"BEGADANG JANGAN BEGADANG, KALO TIADA ARTINYA. BEGADANG BOLEH SAJA, KALAU ADA PERLUNYA."

Duh, gue banget lah. Karena hampir semua begadangnya gue itu emang nggak ada artinya dan nggak perlu-perlu amat. Tapi bukan salah gue sepenuhnya juga. Siapa suruh ngantuknya jadi pindah ke siang hari, bukan malam hari.

Tapi bentar cuy, wejangan itu udah nggak terlalu relevan dengan keadaan manusia masa kini, harusnya ada sedikit lirik yang direvisi jadi;

“BEGADANG JANGAN BERGADANG, KALAU NGGAK MAU JERAWATAN. BEGADANG BOLEH SAJA, KALAU PENGIN JERAWATAN.”

HAHAHA SETUJU?!

Jangan lupa share postingannya ke temen-temen yang lain, ya. Jangan lupa juga like fanspage dan follow blog ini dengan cara klik like dan follow. Setiap ada postingan baru bakal gue share ke fanspage di facebook. Kalian juga bisa berlangganan/subscribe postingan blog gue ini via email. Thanks udah mampir dan jangan bosen mampir lagi ke mari :D

Sumber Gif: Tumblr

Kamis, 03 Agustus 2017

Malam Pertama Gue Menaiki Kereta

Kamis, Agustus 03, 2017 21
Malam Pertama Gue Menaiki Kereta
Gue mau sedikit cerita nih tentang pengalaman pertama gue naik kereta. Pertama kali naik kereta itu april tahun 2015. Iya, gue bisa dibilang telat banget ngerasain naik kereta dan termasuk orang yang katro sekaligus bego ketika berada di stasiun kereta api di kota gue sendiri. Sedikit excited dan bingung pastinya, namanya juga baru pertama kali ya kan. O aza ya kan.

Penampakan Stasiun Lempuyangan. Credit: http://www.instagram.com/indrathrw
Kereta yang pertama kali gue naikin adalah kereta Kahuripan dengan rute Tasikmalaya - Lempuyangan dengan waktu tempuh kurang lebih enam jam.

Jogjakarta gue pilih sebagai tujuan pertama kali naik kereta karena gue sama temen-temen tongkrongan gue (selanjutnya jadi kita) emang punya rencana pergi ke sana dari jauh-jauh hari. Ide awalnya karena kita sering nongkrong di angkringan, kemudian tercetus ide untuk nongkrong di Jogjakarta langsung. Awalnya cuma wacana belaka, ya biasalah bacot-bacot doang dulu.

Pemesanan tiket kereta dibeli langsung di stasiun setelah semalam sebelumnya liat-liat dulu ketersediaan kursinya. Kita beli seminggu sebelum hari berangkat, alasannya selain biar tenang karena bisa milih-milih kursi secara bebas, persiapan hal-hal yang lainnya juga bisa bener-bener mateng, kayak pantun masak aer.

Setelah sampe di stasiun untuk reservasi tiket, gue dan temen-temen sepakat untuk beli tiket perginya pagi-pagi, dan tiket pulangnya malem-malem, biar lebih panjang aja gitu waktu liburannya, tapi ternyata tiket untuk kereta pertama udah habis, sisa tinggal kereta kedua yang berangkatnya malem. Ini mah ceritanya jadi malam pertama gue menaiki kereta. Tanpa pikir panjang sepanjang jalan kenangan, gue dan temen lainnya mengiyakan aja, meskipun sebenernya gondok banget kayak si Eceng.

Setelah beres beli tiket untuk pergi yang penginnya pagi tapi kebagian yang malem, terjadi juga di tiket buat baliknya. Makin gondok lagi lah gue kayak kekurangan youdium. Kenapa harus tibalik gini atuh euy! Memang ya, manusia hanya bisa berencana. Tuhan yang mengatur segalanya.

Seminggu berlalu, tanpa ada hari membicarakan rencana mau ngapain aja di Jogja nanti.

Hari H tiba, gue udah excited banget bakalan naik kereta untuk pertama kalinya dan menuju ke sebuah tempat yang banyak sekali dirindukan orang untuk pertama kalinya juga. Combo.

Beberapa jam sebelum berangkat, salah satu temen gue ngingetin rencana mau ke mana aja nanti di sana. Gue dan temen yang lain sama-sama bingung hingga akhirnya muncul beberapa gagasan yaitu memasukan Malioboro dan Borobudur sebagai tujuan wajib, sisanya gimana nanti aja. Untuk tidur pun kita belum dapet tempat yang pasti. 

Setengah jam sebelum naik, kita udah di stasiun. Sampe akhirnya kereta dateng dan kita mulai masuk.

"Oh gini ya daleman gerbong kereta.." 
"Oh gini ya kursinya"
"Wah, ada colokannya."
"Wah, di kelas ekonomi pun udah ada AC. Enakeun euy."

Iya, kita pesen tiket ekonomi. Maklum lah, dompet sekelas backpacker abal-abal yang gembel banget kayak kita mah nggak usah yang mewah-mewah, yang penting kan naik kereta dan bisa sampe ke Jogja. Ituh.

Baca juga: Tips Liburan Ke Banda Aceh Untuk Pemula

Selama perjalanan, gue menikmati sekali jengkal demi jengkol langkah kereta di atas rel. Ternyata nggak semenyeramkan yang dikira, malah betah banget dan lebih betah daripada naik bis. Jugijag-gijugnya pun gue rasakan dengan hati riang gembira. 

Pipis di toilet kereta juga seru. Semacam pipis di toilet sebuah wahana. Jadi ketika gue pipis, toiletnya goyang-goyang, gue kira ada Via Vallen nyanyi kereta malam, ternyata emang keretanya yang goyang. Ada sensasi tersendiri nih pipis di toilet goyang, i mean toilet kereta.

Di atas kereta gue cuma mesen kopi, nggak sama pabriknya apalagi sahamnya. Kopinya lumayanlah, namanya juga kopi sachet yang diseduh. Rasanya nggak bakal seasik yang diracik barista. Oh iya, gue baru tau kalo di kereta ada semacam tempat untuk makan. Hahaha norak pisan lah gue. 

Setelah sampe di tujuan dan menghabiskan waktu jalan-jalan di Jogjakarta, kita pulang dengan kereta yang berbeda. Kita naik kereta Pasundan yang fasilitasnya menurut gue nggak seasik Kahuripan. Harganya lebih mahal dikit dari kahuripan, tapi fasilitasnya nggak sesuai dengan ekspetasi kita yang ngebayangin bakal lebih asik karena harganya sedikit lebih mahal dari kahuripan, ternyata nggak.

Jadi gitu, cuy! Cerita malam pertama gue menaiki kereta. Gapapa norak, namanya juga pengalaman pertama. Yang bahagia kan kita-kita juga. Buat yang udah sering, jangan cengin gue. Cerita aja pengalaman pertama kalian waktu dulu naik kereta di kolom komentar. GO!