Oktober 2017 - Indra Permana

Jumat, 27 Oktober 2017

Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek

Jumat, Oktober 27, 2017 5
Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek
For your information, cerita gue kali ini muncul ketika lagi keramas di kamar mandi setelah gue potong rambut. Entah kenapa jadi kepikiran sama bulu ketek cewek yang pernah gue kenal, padahal yang gue keramasin itu rambut kepala, bukan rambut yang berada di sela-sela pangkal kedua tangan. 

Lemme tell you story about Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek

Tadinya mau pajang foto Mbak Eva Arnaz, tapi agak nganu.
Tadinya mau pajang foto Mbak Eva Arnaz, tapi agak nganu.
Gue pernah deket sama cewek yang gue kenal dari temen sekelas gue. Doi cantik bener, kutilang banget pokoknya. Kurus tinggi langsing, matanya belo, kulit putih, pinter, mirip Katy Perry dan doi suka banget sama k-pop.

Selama deket, komunikasi berjalan lancar kayak anak-anak SMA biasa yang nanyain kebutuhan dasar manusia. Kayak,

"Udah makan belum?"

"Udah malem nih, tidur belum?"

"Udah boker?"

"Udah selfie?"

"Udah Mastur.. Mandra.. Atun?"

Ya standar kayak gitu-gitu lah. Gue juga sempet maen ke rumahnya dengan alih-alih ngerjain tugas bareng, karena kebetulan adeknya dia itu satu kelompok sama gue, kesempatan  diamond lah buat gue. Ngobrolnya asik walau masih awkawrd banget waktu itu.

Tiba saatnya pada suatu hari ketika gue coba maen ke rumahnya dengan memberikan secuil jam tangan berbentuk kado ulang tahun. Gue memberanikan diri untuk memberikan kadonya secara langsung. Singkat cerita, gue masuk ke rumahnya dan duduk.

Masih inget persis letak kursi yang kami duduki itu berjejer membentuk huruf L, jadi kalo gue ngadep depan, doi jadi nyamping. Kami ngobrol nggak jelas ngalor-ngidul, 

"Kemaren ada konsernya Justin Bieber ya di TV, gila keren ya stage-nya." Ucap gue, tersendat-sendat.

"Oh iya, aku nonton tuh. Seru." Timbalnya, ketus.

"Eh, ini ada sesuatu. Diterima, ya." Sambil nyodorin sebuah kotak putih polos.

"Duh apa ini?" Tanya dia kaget

"Itu, bom molotov yang akan meledak sekitar 3... 2..." Ini nggak ada di obrolan waktu itu sih hahaha

Pas tangannya ngambil kotak putih itu, tetiba ada sesuatu yang menyeruak dari keteknya. Ada sekian helai rambut yang lumayan hitam dan lebat menonjolkan dirinya seolah menantang rambut yang ada di sela-sela upil di lubang hidung gue.

"Eh buset, lebat pisan anjis." Teriak gue dalam hati.

Rasa cinta, sayang dan rindu seketika pudar tersapu oleh sekian helai rambut hitam lebat di keteknya. Seolah-olah menyuruhku untuk enyah. Lima menit kemudian gue memilih untuk balik dengan membawa ribuan pertanyaan di pikiran gue. Kenapa gue harus ilfeel ya, padahal bulu ketek mah wajar-wajar aja tumbuh di ketek baik cewek atau cowok. Kecuali kalo bulu ketek tumbuh di gigi geraham. Padahal ketek gue pun ada bulunya loh, tapi kenapa gue ngeliat doi jadi geli-geli getek ya.

Kalo cewek terus keteknya berambut lebat, yang gue inget ya Mbak Eva Arnaz. Kids zaman now pasti nggak bakal tau siapa dia, kecuali yang sampe sekarang masih nonton film Warkop DKI zaman dulu. Karena Mbak Eva Arnaz ini menjadi salah satu Warkop Angel atau jadi cewek-cewek cantik yang mendampingi personil Warkop itu loh.

Waktu itu gue merasa jadi manusia paling jahat karena menjadikan bulu ketek sebagai alasan untuk menjauhi seorang cewek. Padahal kan tumbuhnya bulu ketek itu proses alamiah manusia ketika puber, tapi gue malah menjadikannya alasan. Hehe

Dear you, maap ya..

Btw, ada yang pernah punya pengalaman yang sama kayak gue atau mungkin malah sebaliknya? Share your story over here, guys..

Rabu, 18 Oktober 2017

Tanjung Benoa, Pulau Penyu dan Tragedi Parasailing

Rabu, Oktober 18, 2017 8
Tanjung Benoa, Pulau Penyu dan Tragedi Parasailing
Tidur di kasur hotel emang selalu sukses membuat gue mager untuk melakukan aktifitas. Tapi hal itu harus gue lawan karena gue harus mandi, sarapan dan prepare untuk pergi ke Tanjung Benoa, Bali. Iya, Bali beneran men, aing bener-bener ke Bali. 

Pagi itu Bali cerah sekali, begitupun hati gue yang cerah ceria menyambut pagi karena hari yang dinanti akhirnya menghampiri. Abis beres mandi, gue segera turun untuk sarapan pagi supaya gue bisa kuat menikmati keindahan Bali dan terlepas dari kejombloan yang selalu membayangi.
View dari perahu di Pantai Tanjung Benoa. Warna airnya biru asli ini.

Pertama kali mulai memasuki area pantai ini, kesan pertamanya adalah rame dan berisik. There's so many teenager yang nggak tau dari SMP atau SMA mana, yang jelas mereka berisik. Ya maklum lah seumuran mereka pasti meriah banget kalo bermain dan bekumpul bersama. Alasan berisik lainnya ya karena ini tempat umum.

Menurut gue, pantainya kurang lebih sama aja kayak pantai-pantai kebanyakan. Yang membedakan adalah ada banyak perahu dan speedboat yang lalu lalang ke sana ke mari tapi nggak membawa alamat. Mungkin karena pantai ini menjadi salah satu jalur menuju ke Pulau Penyu.

Seperti pantai-pantai kebanyakan, di sini banyak layanan yang bisa dipilih. Mau nyebrang ke Pulau Penyu, silakan. Mau kebut-kebutan di atas air laut, bisa sewa motor boat. Mau terbang ala bidadara, bisa coba parasailing. Mau chill doang sambil makan-makan, bisa juga. Mau balikan sama mantan, bisa. Asal dianya masih ada hati aja buat lo.

Baca Juga: Wisata Alam dan Seni yang Dekat Hanging Gardens Ubud

Awalnya gue pengin banget nyobain parasailing karena pengin cosplay jadi drone untuk beberapa menit biar bisa melihat keindahan pantai sekitar dari atas. Gue belum pernah nyobain parasailing di pantai manapun sebelumnya, termasuk di Tanjung Benoa ini. Tapi sekalinya pengin nyobain, eh malah ngeliat tragedi parasailing jatuh dengan mata kepala gue sendiri. Nggak perlu mikir lagi chuy, keinginan untuk mencoba harus segera diurungkan, gawat atuh euy belum kawin aing teh. Gue memutuskan untuk nyebrang aja lah ke Pulau Penyu.

Selama perjalanan menuju ke sana, gue cuma look around dan motret sana-sini sambil sesekali ngasih makan ikan dengan roti yang udah disiapkan. Air di pantainya benih banget asli, pas lempar roti, ikan-ikan yang nyamperin dan makan rotinya keliatan jelas banget. Indah.

Sesampainya di sana, gue langsung menghampiri sekumpulan orang yang lagi nonton dan foto bareng sama penyu yang nggak pake baju. Uh.


Satu hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan motivasi setelah melihat penyu dan melakukan interview sedikit dengan bahasa mereka. Jadi gini, penyu itu adalah hewan yang sangat mandiri menurut gue, karena sudah dididik sedari lahir untuk bisa memiliki rumah sendiri, jadi nggak numpang di rumah orang tua. Warbyasa. Tapi sayangnya, rumah punya tapi baju nggak.

Tips & Trick: Kalo kalian jalan sama rombongan, coba berpisah dulu ketika mulai masuk. Berjalanlah dengan wajah tanpa dosa dan seperti nggak ada apa-apa supaya nggak bayar tiket masuk. Tapi sebagai netizen yang budiman, malu dong kalo nggak bayar tiket masuk.

Lurus dan jalan dikit lagi, ada beberapa binatang lain yang sama-sama dikerubungi pengunjung. Kebanyakannya mah burung-burung gitu lah. Tapi ada satu fakta yang gue temukan di sana, ternyata Burung Hantu itu masih hidup dan bernyawa. Gue pegangin juga nggak nembus kayak hantu-hantu yang sering diperlihatkan di film-film, gelo na teh edan pisan, malah diajak snapchat pake filter face swap sama remaja cewek ini. Ganti nama aja lah chuy jadi Burung Hidup.


Selain burung ini, masih ada beberapa lagi jenis-jenis burung lainnya, tapi semuanya dikandangin, biar nggak masuk ke kandang yang lain.

Tepat di tengah-tengah kandang, ada semacam spot untuk berfoto dengan frame seperti yang ada di Instagram. Seperti biasa, perihal sesuatu yang menyangkut eksistensi itu pasti rame, semua berebut untuk mendapatkannya. Termasuk gue. Hahaha.

Sengaja nggak pajang foto gue, pajang yang manis-manis aja lah ya.

Menurut gue pribadi, nggak ada yang terlalu spesial dari pantai Tanjung Benoa dan Pulau Penyu di Bali ini. Kurang lebih sama dengan pantai-pantai kebanyakan. Tapi untuk menjadi tujuan liburan bersama keluarga mah ya oke-oke aja lah dan nggak ada salahnya juga buat nyobain maen ke sini. Btw, di sini banyak bule asia, mulus dan bening-bening chuy.