Januari 2018 - INDRA PERMANA

Sabtu, 20 Januari 2018

Dua Jam di Pagi Pertama

Januari 20, 2018 9
Dua Jam di Pagi Pertama
Aku sudah mulai membayangkan bangun pagi di kamar lantai dua. Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang menyeruak di jendela kaca tanpa sehelai benang menghalaunya.

Mataku masih sedikit rapat seperti enggan untuk membuka. Rasanya seperti ada lem yang melekat erat. Badanku yang dingin mulai memberikan suhu hangatnya dari sinar matahari tadi. Selimut putih yang aku beli di Ikea itu aku seka sehingga dadaku terbuka. Iya, aku memang sedang tak pakai baju. Sengaja, agar supaya sedari pagi tubuhku bisa menyerap sinar matahari.

Tubuhku masih lemas, mungkin karena semalam aku terlalu menjadi budak. Seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat lupa waktu.

Tak lama kemudian,

Ada seorang wanita yang mendekatiku, berjalan teratur mendekati kasur yang sedari malam aku dan dia tiduri. Dia membawakanku sarapan, maksudnya sarapan kita.

Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi. Sebelum aku mengenalnya, aku tak pernah melakukan ritual yang membuatku selalu malas untuk melakukan. Aku mencintainya, sehingga aku melakukannya.

Sengaja aku ringkas ritual pagi yang menyebalkan itu supaya waktuku sedikit lebih banyak bersamanya.

Aku masih menggunakan celana pendek tanpa kaos seperti ketika aku bangun tadi pagi, dia masih dengan piyama yang aku beli, maksudku yang dia pilih untuk aku belikan. Kita sarapan dengan menggunakan pakaian demikian.


Dia mulai memberikan semangkuk alpukat yang sudah dicampur dengan gula merah dan sedikit susu kental coklat. Aku coba mengambil satu sendok alpukat yang sudah aku aduk, lalu ku makan. Dia pun masih dengan kunyahan pertamanya dari gigitan roti bakar blueberry kesukaannya. Terkadang tiga sendok alpukatku dioles di atas roti bakarnya.

Segelas susu low fat sudah siap untuk ku minum, tapi aku menyeruput teh melati yang tidak terlalu manis yang dia buat untuk dirinya. Dia hanya senyum ketika ku habiskan seperempat teh melati itu di cangkirnya. Segelas susu tadi aku teguk sekaligus setelah senyum dia memudar.

Mulut kita sudah tak lagi bekerja, semua alat makan sudah ditempatkan di atas meja dekat pintu kamar.

Pintu balkon sengaja ku buka supaya ada udara pagi yang asri memasuki kamar yang belum ku matikan lampu tidurnya. Udaranya segar sekali, anginnya tak begitu kencang pun tak begitu lembut. Cukup untuk memberikan sirkulasi udara di sekitar kamar dan sela hidung kita.

Kita berjalan ke luar menuju balkon, melihat kucing di bawah sinar matahari menggulung badan dan pundaknya di atas keset pintu rumah. Si zeppelin namanya. Kita ketawa kecil melihat tingkah anehnya.

Teruntuk dia, terima kasih telah menjadi segala bahagia di setiap cerita sederhana yang akan kita lalui di hari-hari lain lagi.