Desi si Sekretaris Desa - Indra Permana

Jumat, 02 Februari 2018

Desi si Sekretaris Desa

Waktu itu bapak pernah cerita tentang adanya Sekretaris Kepala Desa baru di kantor Bapak. Semua warga sekitar memanggil bapak dengan panggilan Pak Kades. Aku adalah anak pertama bapak yang umurnya nggak jauh beda dengan sekretaris desa itu. Selisih enam bulan lebih muda. Aku yang lebih muda.


Bapak sempat menceritakan sedikit tentang Desi ketika baru mulai masuk kantor dan bekerja dengan bapak, jadi aku sedikit banyak tau tentang dia. Bapak juga sempat memberikanku link LinkedIn-nya. Kesan pertamaku waktu itu adalah kaget dan merasa aneh karena dia punya akun LinkedIn, dia punya akun-akun media sosial lainnya juga nggak ya kayak akun Bigo? Hehe.

Aku suka ketika dia tersenyum hingga tertawa. Aku suka rambut pendeknya, kalo diliat dari bentuknya kurang lebih mirip SIA, si penyanyi wanita yang punya rambut dan suara yang sangat khas. Lengkung senyum dari bibir tipisnya sangat simetris, waktu itu dia menggunakan lipstik warna merah marun tanpa five.

Suatu hari, dia datang ke rumah tanpa bapak. Kebetulan aku ada di rumah dan sendirian. Ibuku pergi ke rumah teman SMA-nya, karena ada technical meeting untuk acara reuni akbar. Adikku si Sharen masih belum pulang dari sekolahnya

Dari mulai membukakan pintu, hingga menyuruhnya duduk, aku gugup, padahal aku bukan azis. Ah iya maap, itu gagap. Burung kali ah, gagap.

...

“Bapak nyuruh saya untuk ngambil dokumen yang ada di meja kamar. Kebetulan tadi saya istirahat makan siang di sekitar sini. Jadi, bapak nyuruh saya untuk ngambil dokumennya yang ketinggalan.”

“Oh iya, sebentar saya ambilin.. Silakan duduk, mau minum apa?”

“Iya iya makasih, air putih dingin aja.”

tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok

“Ini bukan, mbak?” tanyaku ragu, sambil memberikan map hijau.

“Ah iya bener, bapak bilang dokumen yang pake map warna hijau.” jawabnya lugas.

Setelah memberikan dokumen yang diminta, kemudian aku lekas ke belakang untuk mengambilkan air minum pesanannya, air putih dingin.

Aku memang nggak begitu jago basa-basi, apalagi memulai percakapan dengan lawan jenis. Kelu bibirku tiba-tiba ketika suasana mulai hening dan gerak tangan mulai melakukan hal-hal salah tingkah.

Pertanyaan dibuka dengan menanyakan pekerjaan hingga nyerempet ke persoalan asmara. Aku mulai kikuk kembali ketika Desi si Sekretatis Desa itu mulai berbicara sedikit bergetar ketika nama mantannya disebut dan menceritakan ribuan dongeng manisnya yang pernah dilalui bersama mantannya itu.

Air mata Desi jatuh seketika.

Aku mulai bingung dan mendekati dia untuk mencoba menyeka air matanya, namun dia hanya menunduk dan berbicara sesenggukan.

"Kamu tahu, Ndra?"
"Waktu itu aku tak sengaja lewat depan rumah dia, aku melihat ada tenda biru, Ndra.." ucap Desi tersedu-sedu.

"Maksud mbak?" tanyaku penasaran

"Aku juga bingung, kalo itu acara nikah, nikahan siapa, Ndra.."

"lantas?"

"Ternyata mantanku yang menikah, dia bersanding duduk di pelaminan dengan temanku yang ku kenalkan waktu nonton konser Via Vallen. Tanpa undangan, aku dilupakan. Tanpa bicara, dia buatku kecewa. Tanpa berdosa, dia buatku merana. Aku tak percaya dia begitu tega nodai cinta, khianati cinta."

"MBAK, MBAK INI DESI RATNASARI, YAAA? WAAAH~"

2 komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisannya. Silakan beri komentar, berilah komentar yang sopan dan tidak mengandung SARA dan jangan lupa mampir lagi ke sini. Silakan tinggalkan jejak tapi jangan nyepam. Thanks, guys! :D