Decision - INDRA PERMANA

Selasa, 25 September 2018

Decision

Seperti malam-malam sebelumya, gue selalu menyempatkan untuk beli buah-buahan, entah itu beli buah secara utuh atau cuma beli es buah tanpa gula dan sirup. Sambil nunggu pesenan es buah dateng, gue buka Instagram dulu biar nggak kuku. Scroll-scroll sampe kemudian nemu suggest people to follow dan gue nemuin akun temen waktu kecil, nggak deket banget tapi pernah berinteraksi karena kami pernah sekelas di pengajian.

Setelah gue follow akun dia yang digembok, tak lama kemudian dia menerima dan mengikuti balik akun gue, selang semenit dia mengirim pesan yang isinya menanyakan siapa gue. Selama menggunakan Instagram dan sudah banyak mengikuti akun yang digembok ataupun nggak, belum pernah sama sekali ditanya kayak gitu, baru kali ini dan inipun orang yang saling kenal sebelumnya.


Setelah gue memperkenalkan diri untuk yang kedua kalinya, dia tetep aja nggak ngenalin sama sekali. Padahal kami ini tinggal di satu lingkungan yang sama, bahkan di sebuah tempat dan waktu yang sama, berinteraksi bersama. Tapi dia tetep nggak ngenalin gue.

Tanda tanya besar mulai muncul berbarengan dengan ketidakpercayaan.

Mungkin dia cuma bercanda atau mungkin harus dikasih clue yang lebih detil, tapi ternyata nihil, dia tetep nggak ngenalin gue, sampai ada satu kalimat yang membuat gue merasa bersalah karena berusaha menjejali masa lalu supaya dia mengenali gue lagi.

"So many hurt at my past and i choose to forget many things."

Gue yang tadinya lagi asik makan buah dan semangat untuk memperkenalkan diri gue (lagi), seketika langsung merasa bersalah.

Yang langsung ada di pikiran saat itu adalah gue harus menerima keputusan dia untuk melupakan banyak hal termasuk melupakan gue dan segala remeh temeh di kehidupan dia. Sempat terbersit pengin nanyain ada rasa sakit apa di masa lalunya sehingga dia memilih untuk melupakan banyak hal, tapi tanpa pikir panjang gue langsung mengurungkannya.

Waktu kami saling kenal dulu, dia adalah anak yang baik, pintar dan ceria seperti kebanyakan anak-anak seusia dia waktu itu, tapi siapa yang tau ada sesuatu yang membuat dia menjadi seperti sekarang dan membuat dia memilih keputusan untuk melupakan banyak hal karena ada banyak rasa sakit yang dia rasakan.

Setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing begitupun kita, itu pasti. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi dengan masa lalu seseorang dan kita nggak punya hak untuk mengetahui atau bahkan mengoreknya.

Dari dia gue belajar untuk menghargai keputusan yang diambil seseorang for a whole life dan belajar untuk terus moving on walau pernah dihantam sakit pada masa lalu. Selain itu, gue juga belajar untuk berani memutuskan sesuatu yang besar untuk hidup yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca tulisannya. Silakan beri komentar, berilah komentar yang sopan dan tidak mengandung SARA dan jangan lupa mampir lagi ke sini. Silakan tinggalkan jejak tapi jangan nyepam. Thanks, guys! :D