Indra Permana

Saturday, February 3, 2018

Tiga Kata Surat Cinta

Saturday, February 03, 2018 2
Tiga Kata Surat Cinta
Zaman-zaman gue masih SMP, untuk bisa berkomunikasi dengan lawan jenis untuk menyambung obrolan di sekolah adalah dengan menggunakan surat. Tapi sebelumnya, tolong jangan bayangkan gue SMP itu ketika masih zaman menggunakan kotak pos yang suka dipajang di depan halaman rumah, karena gue nggak setua itu hahaha.


Gue bersekolah di lingkungan pesantren yang notabene jangan ada interaksi langsung antara santriwan dan satriwati. Jadi, untuk tetap menjaga komunikasi kami menggunakan surat, bisa aja pake SMS, tapi ya yang namanya di pesantren pasti nggak boleh pake handphone.

Ngomongin surat menyurat, gue udah lumayan banyak menuslikan surat cinta buat pacar. Selain karena hanya itu cara untuk bisa tetap menjaga komunikasi, menulis surat juga bisa dijadikan kenang-kenangan, karena bentuk fisiknya ada dan bisa bertahan lama. Sampe sekarang gue masih menyimpan baik semua surat cinta yang pernah gue terima dari pacar dan surat-surat lainnya. Tidak termasuk surat izin sakit, surat tanda nomor kendaraan, apalagi surat cinta untuk starla.

Gue masih inget banget, dulu kalo mau nembak cewek pun masih pake surat. Kertasnya itu pake loose leaf binder ukuran a5, kadang-kadang kertasnya berwarna dan bergambar.

Ah iya, dulu gue pernah nembak cewek dengan media surat cinta yang berisi lirik lagu. Yang lahir di awal 90an kayaknya pernah mengalami hal yang sama kayak gue. Ayo, ngaku!

Jadi dulu gue pernah nembak cewek pake surat cinta dengan lirik lagu. Yang gue pake waktu itu adalah lagunya Caffeine - 3 Kata


Tanpa basa-basi apapun, yang gue tulis di surat untuk nembak cewek waktu itu adalah lirik lagu ini.

ku telah menyimpan dalam hatiku
3 kata yang terpendam
kau telah buka mata hatiku
yang tlah lama buta

saat dekat, saat kau tlah disisiku
ku tak bisa mengungkapkan
semua yang ada di dalam jiwaku
ku hanya terdiam

semua tak seperti yang ku pinta
semua tak seperti yang ku harap
3 kataku untuk dirimu
slalu di dalam hatiku
yang terbaik untukmu

ku telah menyimpan dalam hatiku
3 kata yang terpendam
haruskah ku ungkapkan kepadamu
aku cinta kamu


Yang gue pikirkan ketika nulis surat untuk nembak cewek waktu itu adalah karena gue suka lagunya dan gue pikir liriknya cocok sama love story gue waktu itu. Untungnya, cinta gue diterima dan gue mulai meniti story setelahnya. Karena lagu itu, gue jadi punya cerita.

Enaknya punya lagu favorit di masa-masa pacaran adalah setiap mendengarkan lagunya, selalu teringat semua kenangan bersamanya. Terima kasih Caffeine, sudah menciptakan lagu itu dan memberikan beberapa kenangan. 

Friday, February 2, 2018

Desi si Sekretaris Desa

Friday, February 02, 2018 2
Desi si Sekretaris Desa
Waktu itu bapak pernah cerita tentang adanya Sekretaris Kepala Desa baru di kantor Bapak. Semua warga sekitar memanggil bapak dengan panggilan Pak Kades. Aku adalah anak pertama bapak yang umurnya nggak jauh beda dengan sekretaris desa itu. Selisih enam bulan lebih muda. Aku yang lebih muda.


Bapak sempat menceritakan sedikit tentang Desi ketika baru mulai masuk kantor dan bekerja dengan bapak, jadi aku sedikit banyak tau tentang dia. Bapak juga sempat memberikanku link LinkedIn-nya. Kesan pertamaku waktu itu adalah kaget dan merasa aneh karena dia punya akun LinkedIn, dia punya akun-akun media sosial lainnya juga nggak ya kayak akun Bigo? Hehe.

Aku suka ketika dia tersenyum hingga tertawa. Aku suka rambut pendeknya, kalo diliat dari bentuknya kurang lebih mirip SIA, si penyanyi wanita yang punya rambut dan suara yang sangat khas. Lengkung senyum dari bibir tipisnya sangat simetris, waktu itu dia menggunakan lipstik warna merah marun tanpa five.

Suatu hari, dia datang ke rumah tanpa bapak. Kebetulan aku ada di rumah dan sendirian. Ibuku pergi ke rumah teman SMA-nya, karena ada technical meeting untuk acara reuni akbar. Adikku si Sharen masih belum pulang dari sekolahnya

Dari mulai membukakan pintu, hingga menyuruhnya duduk, aku gugup, padahal aku bukan azis. Ah iya maap, itu gagap. Burung kali ah, gagap.

...

“Bapak nyuruh saya untuk ngambil dokumen yang ada di meja kamar. Kebetulan tadi saya istirahat makan siang di sekitar sini. Jadi, bapak nyuruh saya untuk ngambil dokumennya yang ketinggalan.”

“Oh iya, sebentar saya ambilin.. Silakan duduk, mau minum apa?”

“Iya iya makasih, air putih dingin aja.”

tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok tik tok

“Ini bukan, mbak?” tanyaku ragu, sambil memberikan map hijau.

“Ah iya bener, bapak bilang dokumen yang pake map warna hijau.” jawabnya lugas.

Setelah memberikan dokumen yang diminta, kemudian aku lekas ke belakang untuk mengambilkan air minum pesanannya, air putih dingin.

Aku memang nggak begitu jago basa-basi, apalagi memulai percakapan dengan lawan jenis. Kelu bibirku tiba-tiba ketika suasana mulai hening dan gerak tangan mulai melakukan hal-hal salah tingkah.

Pertanyaan dibuka dengan menanyakan pekerjaan hingga nyerempet ke persoalan asmara. Aku mulai kikuk kembali ketika Desi si Sekretatis Desa itu mulai berbicara sedikit bergetar ketika nama mantannya disebut dan menceritakan ribuan dongeng manisnya yang pernah dilalui bersama mantannya itu.

Air mata Desi jatuh seketika.

Aku mulai bingung dan mendekati dia untuk mencoba menyeka air matanya, namun dia hanya menunduk dan berbicara sesenggukan.

"Kamu tahu, Ndra?"
"Waktu itu aku tak sengaja lewat depan rumah dia, aku melihat ada tenda biru, Ndra.." ucap Desi tersedu-sedu.

"Maksud mbak?" tanyaku penasaran

"Aku juga bingung, kalo itu acara nikah, nikahan siapa, Ndra.."

"lantas?"

"Ternyata mantanku yang menikah, dia bersanding duduk di pelaminan dengan temanku yang ku kenalkan waktu nonton konser Via Vallen. Tanpa undangan, aku dilupakan. Tanpa bicara, dia buatku kecewa. Tanpa berdosa, dia buatku merana. Aku tak percaya dia begitu tega nodai cinta, khianati cinta."

"MBAK, MBAK INI DESI RATNASARI, YAAA? WAAAH~"

Thursday, February 1, 2018

Project #28HariMenulisApapun

Thursday, February 01, 2018 2
Project #28HariMenulisApapun

Gue kenal blog udah dari 2009 meskipun nulisnya masih amat sangat jarang-jarang. Motivasi untuk nulis juga masih naik turun. Kadang gue juga mikir, nulis itu passion gue apa bukan, karena imho, yang namanya passion itu kita akan selalu bersemangat dan antusias untuk melakukan sesuatu yang kita suka hingga kadang-kadang lupa segalanya. 

Gue sempet ngerasain semangat yang begitu membara untuk blogging, hampir setiap hari gue posting satu blogpost dan semangat itu bisa bertahan hingga lebih dari satu bulan. Gue juga sempet ngerasain semangat yang begitu dingin untuk blogging, hampir setahun gue posting cuma satu atau dua blogpost doang dan itu bertahan lama hingga gue menemukan semangat lagi untuk giat posting blogpost dan nggak lama kemudian redup lagi. Gitu aja terus sampe semua hero Marvel punya anak cucu cicit dan bikin marga sendiri.

Gue udah sering juga punya project sendiri untuk bisa nulis satu bulan penuh dengan satu tema, tapi lagi-lagi itu cuma wacana. Berawal dari situ, gue mulai mencoba untuk menantang diri sendiri untuk merealisasikan semua rencana yang gue langgar sendiri. 

Selain untuk mengasah kemampuan menulis yang belum mampu-mampu amat, tantangan ini bisa melatih gue untuk mendisiplinkan waktu dan bisa dijadikan sebagai selingan aktifitas keseharian gue yang tiap hari cuma gitu-gitu doang. 

Tapi, inti dari tujuan tantangan ini adalah supaya gue merasa terbiasa untuk menulis dan nggak menjadikan menulis sebagai suatu hal yang berat dan membebani. Oleh karena itu, mulai dari hari ini hingga satu bulan ke depan, gue berusaha untuk menulis apapun di blog ini tanpa tema khusus. Hanya menulis, supaya label Blogger yang selalu gue gembar-gembor ke mana-mana berarti benar sebagai Blogger yang  rajin menulis blogspot, bukan hanya Blogger yang hanya punya blog.

Kalo bulan kemarin Si NFirmansyah punya project #30HariMenulisLagu, bulan ini gue mau coba bikin project #28HariMenulisApapun. Yang mau ikutan, ayo boleh banget nih biar gue nggak berjuang sendirian memberantas berbagai alasan untuk nggak posting blogpost.

Semua blogspost akan gue share ke semua akun media sosial yang gue punya. Jadi, yang mau ikutan bisa mention atau share ke gue, nanti gue share juga tulisan kalian. GO!

Saturday, January 20, 2018

Dua Jam di Pagi Pertama

Saturday, January 20, 2018 9
Dua Jam di Pagi Pertama
Aku sudah mulai membayangkan bangun pagi di kamar lantai dua. Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang menyeruak di jendela kaca tanpa sehelai benang menghalaunya.

Mataku masih sedikit rapat seperti enggan untuk membuka. Rasanya seperti ada lem yang melekat erat. Badanku yang dingin mulai memberikan suhu hangatnya dari sinar matahari tadi. Selimut putih yang aku beli di Ikea itu aku seka sehingga dadaku terbuka. Iya, aku memang sedang tak pakai baju. Sengaja, agar supaya sedari pagi tubuhku bisa menyerap sinar matahari.

Tubuhku masih lemas, mungkin karena semalam aku terlalu menjadi budak. Seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat lupa waktu.

Tak lama kemudian,

Ada seorang wanita yang mendekatiku, berjalan teratur mendekati kasur yang sedari malam aku dan dia tiduri. Dia membawakanku sarapan, maksudnya sarapan kita.

Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi. Sebelum aku mengenalnya, aku tak pernah melakukan ritual yang membuatku selalu malas untuk melakukan. Aku mencintainya, sehingga aku melakukannya.

Sengaja aku ringkas ritual pagi yang menyebalkan itu supaya waktuku sedikit lebih banyak bersamanya.

Aku masih menggunakan celana pendek tanpa kaos seperti ketika aku bangun tadi pagi, dia masih dengan piyama yang aku beli, maksudku yang dia pilih untuk aku belikan. Kita sarapan dengan menggunakan pakaian demikian.


Dia mulai memberikan semangkuk alpukat yang sudah dicampur dengan gula merah dan sedikit susu kental coklat. Aku coba mengambil satu sendok alpukat yang sudah aku aduk, lalu ku makan. Dia pun masih dengan kunyahan pertamanya dari gigitan roti bakar blueberry kesukaannya. Terkadang tiga sendok alpukatku dioles di atas roti bakarnya.

Segelas susu low fat sudah siap untuk ku minum, tapi aku menyeruput teh melati yang tidak terlalu manis yang dia buat untuk dirinya. Dia hanya senyum ketika ku habiskan seperempat teh melati itu di cangkirnya. Segelas susu tadi aku teguk sekaligus setelah senyum dia memudar.

Mulut kita sudah tak lagi bekerja, semua alat makan sudah ditempatkan di atas meja dekat pintu kamar.

Pintu balkon sengaja ku buka supaya ada udara pagi yang asri memasuki kamar yang belum ku matikan lampu tidurnya. Udaranya segar sekali, anginnya tak begitu kencang pun tak begitu lembut. Cukup untuk memberikan sirkulasi udara di sekitar kamar dan sela hidung kita.

Kita berjalan ke luar menuju balkon, melihat kucing di bawah sinar matahari menggulung badan dan pundaknya di atas keset pintu rumah. Si zeppelin namanya. Kita ketawa kecil melihat tingkah anehnya.

Teruntuk dia, terima kasih telah menjadi segala bahagia di setiap cerita sederhana yang akan kita lalui di hari-hari lain lagi.

Friday, October 27, 2017

Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek

Friday, October 27, 2017 5
Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek
For your information, cerita gue kali ini muncul ketika lagi keramas di kamar mandi setelah gue potong rambut. Entah kenapa jadi kepikiran sama bulu ketek cewek yang pernah gue kenal, padahal yang gue keramasin itu rambut kepala, bukan rambut yang berada di sela-sela pangkal kedua tangan. 

Lemme tell you story about Bulu Ketek Cewek Yang Bikin Getek

Tadinya mau pajang foto Mbak Eva Arnaz, tapi agak nganu.
Tadinya mau pajang foto Mbak Eva Arnaz, tapi agak nganu.
Gue pernah deket sama cewek yang gue kenal dari temen sekelas gue. Doi cantik bener, kutilang banget pokoknya. Kurus tinggi langsing, matanya belo, kulit putih, pinter, mirip Katy Perry dan doi suka banget sama k-pop.

Selama deket, komunikasi berjalan lancar kayak anak-anak SMA biasa yang nanyain kebutuhan dasar manusia. Kayak,

"Udah makan belum?"

"Udah malem nih, tidur belum?"

"Udah boker?"

"Udah selfie?"

"Udah Mastur.. Mandra.. Atun?"

Ya standar kayak gitu-gitu lah. Gue juga sempet maen ke rumahnya dengan alih-alih ngerjain tugas bareng, karena kebetulan adeknya dia itu satu kelompok sama gue, kesempatan  diamond lah buat gue. Ngobrolnya asik walau masih awkawrd banget waktu itu.

Tiba saatnya pada suatu hari ketika gue coba maen ke rumahnya dengan memberikan secuil jam tangan berbentuk kado ulang tahun. Gue memberanikan diri untuk memberikan kadonya secara langsung. Singkat cerita, gue masuk ke rumahnya dan duduk.

Masih inget persis letak kursi yang kami duduki itu berjejer membentuk huruf L, jadi kalo gue ngadep depan, doi jadi nyamping. Kami ngobrol nggak jelas ngalor-ngidul, 

"Kemaren ada konsernya Justin Bieber ya di TV, gila keren ya stage-nya." Ucap gue, tersendat-sendat.

"Oh iya, aku nonton tuh. Seru." Timbalnya, ketus.

"Eh, ini ada sesuatu. Diterima, ya." Sambil nyodorin sebuah kotak putih polos.

"Duh apa ini?" Tanya dia kaget

"Itu, bom molotov yang akan meledak sekitar 3... 2..." Ini nggak ada di obrolan waktu itu sih hahaha

Pas tangannya ngambil kotak putih itu, tetiba ada sesuatu yang menyeruak dari keteknya. Ada sekian helai rambut yang lumayan hitam dan lebat menonjolkan dirinya seolah menantang rambut yang ada di sela-sela upil di lubang hidung gue.

"Eh buset, lebat pisan anjis." Teriak gue dalam hati.

Rasa cinta, sayang dan rindu seketika pudar tersapu oleh sekian helai rambut hitam lebat di keteknya. Seolah-olah menyuruhku untuk enyah. Lima menit kemudian gue memilih untuk balik dengan membawa ribuan pertanyaan di pikiran gue. Kenapa gue harus ilfeel ya, padahal bulu ketek mah wajar-wajar aja tumbuh di ketek baik cewek atau cowok. Kecuali kalo bulu ketek tumbuh di gigi geraham. Padahal ketek gue pun ada bulunya loh, tapi kenapa gue ngeliat doi jadi geli-geli getek ya.

Kalo cewek terus keteknya berambut lebat, yang gue inget ya Mbak Eva Arnaz. Kids zaman now pasti nggak bakal tau siapa dia, kecuali yang sampe sekarang masih nonton film Warkop DKI zaman dulu. Karena Mbak Eva Arnaz ini menjadi salah satu Warkop Angel atau jadi cewek-cewek cantik yang mendampingi personil Warkop itu loh.

Waktu itu gue merasa jadi manusia paling jahat karena menjadikan bulu ketek sebagai alasan untuk menjauhi seorang cewek. Padahal kan tumbuhnya bulu ketek itu proses alamiah manusia ketika puber, tapi gue malah menjadikannya alasan. Hehe

Dear you, maap ya..

Btw, ada yang pernah punya pengalaman yang sama kayak gue atau mungkin malah sebaliknya? Share your story over here, guys..

Wednesday, October 18, 2017

Tanjung Benoa, Pulau Penyu dan Tragedi Parasailing

Wednesday, October 18, 2017 8
Tanjung Benoa, Pulau Penyu dan Tragedi Parasailing
Tidur di kasur hotel emang selalu sukses membuat gue mager untuk melakukan aktifitas. Tapi hal itu harus gue lawan karena gue harus mandi, sarapan dan prepare untuk pergi ke Tanjung Benoa, Bali. Iya, Bali beneran men, aing bener-bener ke Bali. 

Pagi itu Bali cerah sekali, begitupun hati gue yang cerah ceria menyambut pagi karena hari yang dinanti akhirnya menghampiri. Abis beres mandi, gue segera turun untuk sarapan pagi supaya gue bisa kuat menikmati keindahan Bali dan terlepas dari kejombloan yang selalu membayangi.
View dari perahu di Pantai Tanjung Benoa. Warna airnya biru asli ini.

Pertama kali mulai memasuki area pantai ini, kesan pertamanya adalah rame dan berisik. There's so many teenager yang nggak tau dari SMP atau SMA mana, yang jelas mereka berisik. Ya maklum lah seumuran mereka pasti meriah banget kalo bermain dan bekumpul bersama. Alasan berisik lainnya ya karena ini tempat umum.

Menurut gue, pantainya kurang lebih sama aja kayak pantai-pantai kebanyakan. Yang membedakan adalah ada banyak perahu dan speedboat yang lalu lalang ke sana ke mari tapi nggak membawa alamat. Mungkin karena pantai ini menjadi salah satu jalur menuju ke Pulau Penyu.

Seperti pantai-pantai kebanyakan, di sini banyak layanan yang bisa dipilih. Mau nyebrang ke Pulau Penyu, silakan. Mau kebut-kebutan di atas air laut, bisa sewa motor boat. Mau terbang ala bidadara, bisa coba parasailing. Mau chill doang sambil makan-makan, bisa juga. Mau balikan sama mantan, bisa. Asal dianya masih ada hati aja buat lo.

Baca Juga: Wisata Alam dan Seni yang Dekat Hanging Gardens Ubud

Awalnya gue pengin banget nyobain parasailing karena pengin cosplay jadi drone untuk beberapa menit biar bisa melihat keindahan pantai sekitar dari atas. Gue belum pernah nyobain parasailing di pantai manapun sebelumnya, termasuk di Tanjung Benoa ini. Tapi sekalinya pengin nyobain, eh malah ngeliat tragedi parasailing jatuh dengan mata kepala gue sendiri. Nggak perlu mikir lagi chuy, keinginan untuk mencoba harus segera diurungkan, gawat atuh euy belum kawin aing teh. Gue memutuskan untuk nyebrang aja lah ke Pulau Penyu.

Selama perjalanan menuju ke sana, gue cuma look around dan motret sana-sini sambil sesekali ngasih makan ikan dengan roti yang udah disiapkan. Air di pantainya benih banget asli, pas lempar roti, ikan-ikan yang nyamperin dan makan rotinya keliatan jelas banget. Indah.

Sesampainya di sana, gue langsung menghampiri sekumpulan orang yang lagi nonton dan foto bareng sama penyu yang nggak pake baju. Uh.


Satu hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan motivasi setelah melihat penyu dan melakukan interview sedikit dengan bahasa mereka. Jadi gini, penyu itu adalah hewan yang sangat mandiri menurut gue, karena sudah dididik sedari lahir untuk bisa memiliki rumah sendiri, jadi nggak numpang di rumah orang tua. Warbyasa. Tapi sayangnya, rumah punya tapi baju nggak.

Tips & Trick: Kalo kalian jalan sama rombongan, coba berpisah dulu ketika mulai masuk. Berjalanlah dengan wajah tanpa dosa dan seperti nggak ada apa-apa supaya nggak bayar tiket masuk. Tapi sebagai netizen yang budiman, malu dong kalo nggak bayar tiket masuk.

Lurus dan jalan dikit lagi, ada beberapa binatang lain yang sama-sama dikerubungi pengunjung. Kebanyakannya mah burung-burung gitu lah. Tapi ada satu fakta yang gue temukan di sana, ternyata Burung Hantu itu masih hidup dan bernyawa. Gue pegangin juga nggak nembus kayak hantu-hantu yang sering diperlihatkan di film-film, gelo na teh edan pisan, malah diajak snapchat pake filter face swap sama remaja cewek ini. Ganti nama aja lah chuy jadi Burung Hidup.


Selain burung ini, masih ada beberapa lagi jenis-jenis burung lainnya, tapi semuanya dikandangin, biar nggak masuk ke kandang yang lain.

Tepat di tengah-tengah kandang, ada semacam spot untuk berfoto dengan frame seperti yang ada di Instagram. Seperti biasa, perihal sesuatu yang menyangkut eksistensi itu pasti rame, semua berebut untuk mendapatkannya. Termasuk gue. Hahaha.

Sengaja nggak pajang foto gue, pajang yang manis-manis aja lah ya.

Menurut gue pribadi, nggak ada yang terlalu spesial dari pantai Tanjung Benoa dan Pulau Penyu di Bali ini. Kurang lebih sama dengan pantai-pantai kebanyakan. Tapi untuk menjadi tujuan liburan bersama keluarga mah ya oke-oke aja lah dan nggak ada salahnya juga buat nyobain maen ke sini. Btw, di sini banyak bule asia, mulus dan bening-bening chuy.